Rambu dilarang belok kanan dari Jalan Sejahtera ke Jalan Makmur telah lama hilang. Hilangnya rambu tersebut membuat pengendara mobil terkadang mengarahkan mobilnya untuk belok ke kanan. Untungnya bila jalanan sedang ramai mereka menjadi ragu-ragu melihat arus lalu lintas di Jalan Makmur. Karena sebagai jalan satu arah, tentu saja wajar saja bila ada mobil yang berjalan di sisi kanan jalan. Bila melihat mobil berjalan di sisi kanan jalan, orang akan segera “ngeh” bahwa jalan itu jalan satu arah.


Dalam beberapa hal seorang pengendara mobil memang tidak cukup bergantung pada rambu saja, tetapi juga menggunakan naluri dan pengalaman selama mengemudi. Rambu lalu lintas bisa saja hilang atau rusak, sehingga seorang pengemudi harus menafsirkan sendiri keadaan lalu lintas yang sedang dilewatinya.

Ada juga rambu jalan satu arah di Jalan Kesehatan yang pernah hilang. Pada awalnya saya mengira hilangnya rambu itu karena perubahan jalur lalu lintas. Setelah rambu itu hilang kadangkala mobil-mobil dari Jalan Makmur belok ke Jalan Kesehatan karena jalan itu lebih dekat menuju rumah sakit dibanding harus lewat Jalan Eijkman. Akibatnya jalan yang biasanya sepi itu terkadang menjadi ramai.

Ternyata dugaanku salah. Belakangan kulihat rambu larangan masuk itu ada lagi. Mungkin dipasang oleh petugas atau mungkin juga oleh penduduk sekitar. Artinya rambu itu lenyap dari tempatnya bukan karena perubahan arus lalu lintas, tetapi karena hilang atau rusak oleh penyebab alami seperti hujan besar dan pohon tumbang.

Intinya sebagai pengendara kendaraan kita tidak cukup hanya mengandalkan rambu-rambu saja. Tetapi juga harus melihat situasi yang kita hadapi. Semua itu demi keselamatan kita sendiri. Tidak semua rambu lalu lintas tetap berada di tempatnya, dan tidak semua jalan yang dilewati kereta api dilengkapi palang pintu. Mau tidak mau, tidak bisa tidak kita harus menyesuaikan diri dengan keadaan itu sebelum kita berhasil merubahnya.

Tulis sebuah Komentar

*
*